Lahan Makam di Jakarta Semakin Berkurang

Setiap orang yang meninggal wajib untuk dimakamkan sesuai dengan ketentuan agama yang dianut oleh jenazah semasa hidupnya. Jenazah biasanya akan disemayamkan di Tempat Pemakaman Umum atau TPU.

TPU adalah kawasan tempat pemakaman yang biasanya dikuasai oleh pemerintah daerah dan disediakan untuk masyarakat umum yang membutuhkannya. Penggunaan lahan TPU ini dikelompokkan berdasarkan keyakinan yang dianut oleh orang yang meninggal tersebut.

Untuk ukuran tanah yang disediakan sendiri untuk makam adalah maksimal 2,50 x 1,50 M dengan kedalaman sekurang-kurangnya 1,50 M dari permukaan tanah.

Namun, seiring dengan perkembangan waktu, lahan yang digunakan untuk tempat pemakaman akan semakin terbatas. Salah satu daerah yang berpotensi terancam mengalami krisis lahan makam adalah Provinsi DKI Jakarta.

Bahkan, salah seorang pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, memprediksi bahwa Jakarta akan mengalami krisis tersebut pada tahun 2019.

Nirwono menjelaskan bahwa setidaknya ada kurang lebih 100 jenazah yang setiap harinya dimakamkan di Jakarta. Untuk satu petak makam membutuhkan lahan dengan luas 5,5 meter persegi termasuk untuk keperluan sarana dan prasarana seperti jalan di kiri kanannya.

Artinya, lahan yang dibutuhkan adalah sekitar 200.750 meter persegi atau 20,075 hektar setiap tahunnya. Berdasarkan data inilah potensi krisis lahan pemakaman bisa menimpa Jakarta.

lahan makam di jakarta

Apalagi masih banyak lahan untuk pemakaman yang belum siap pakai. Lahan tersebut merupakan lahan yang sudah dibebaskan, namun masih memerlukan pematangan.

Hal ini karena kebanyakan lahan tersebut masih berupa rawa-rawa, berair, dan bekas sawah, sehingga perlu diuruk.

Menyikapi hal ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan membeli lahan untuk menambah luas pemakaman umum bagi masyarakat. Anggaran dana yang disiapkan adalah sebesar Rp 400 miliar untuk pengadaan lahan ruang terbuka hijau makam di wilayah DKI Jakarta.

Artikel Terkait  Ini Dia Biaya Pemakaman di Jakarta

Hal ini demi memenuhi kebutuhan jangka panjang masyarakat. Apalagi, banyak umat muslim yang khawatir bila memang nantinya terjadi krisi lahan makam, bukan tidak mungkin akan banyak makam muslim yang bercampur dengan makam non muslim.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Selain itu, masih ada ketentuan lain mengenai syariah pemakaman yang wajib dilakukan. Ketentuan tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Kepastian arah kiblat
  2. Tinggi makam maksimum 10 cm, tidak boleh ditinggikan dan tidak juga dibangun apapun di atasnya.
  3. Makam hanya terdiri dari nisan
  4. Makam tidak boleh dilangkahi dan diinjak-injak.

Selain itu, makam juga harus diperhatikan kebersihannya. Maka diperlukan perawatan terhadap makam tersebut.

Sayangnya, banyak makam baik di kota besar maupun di desa yang kondisinya tidak terawat. Biasanya makam baru dibersihkan pada saat tertentu saja, misalnya menjelang bulan Ramadhan.

Dengan begitu, makam akan terlihat sangat kotor dengan ditumbuhi tanaman dan ilalang yang tidak terawat. Melihat fakta tersebut, terkadang membuat banyak orang merasa malas untuk pergi berziarah. Padahal, berziarah adalah salah satu wujud kita untuk mengingat kematian.

Di Jakarta sendiri, belum memprioritaskan untuk membeli lahan di luar Jakarta. Hal ini karena makam yang jauh akan semakin memberatkan proses pemakaman jenazah.

Selain itu, masyarakat juga akan semakin malas untuk melakukan kegiatan ziarah ke makam. Di luar hal itu, pemerintah selaku pengelola Tempat Pemakaman Umum (TPU) juga harus memperhatikan kenyamanan di TPU.

Lahan makam tersebut harus lebih layak dan lebih nyaman untuk melakukan proses pemakaman sekaligus nyaman untuk berziarah.

Kategori info
info diskon? chat dengan saya