Menelisik Ukuran Makam dalam Kajian Islam

Manusia yang hidup di dunia ini semuanya tentu akan mengalami kematian, namun tidak tahu kapan dan bagaimana proses kematian kita.

Rasanya takut dan gusar jika mendengar kata kematian, antara takut karena dosa dan belum siap meninggalkan keluarga serta orang terkasih.

Namun perlu di ingat, meskipun berat dan takut, kematian itu pasti datang kepada setiap manusia. Maka dari itu, perlu dipertebal lagi keimanan dan amal saleh kita selama masih hidup di dunia sebagai bekal nanti di kehidupan kekal yakni akhirat.

Berbicara mengenai kematian, orang yang telah mati tentunya membutuhkan bantuan orang lain untuk merawat dan menguburkan jenazahnya.

Perlu diketahui juga oleh masyarakat bahwa untuk menguburkan orang yang telah meninggal dunia dibutuhkan modal materi.

Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang bukan tanah wakaf, tentunya memiliki tarif tersendiri untuk sewa tanah kubur sesuai dengan ukuran makam dan undang-undang yang berlaku.

ukuran makam kuburan

Jika dahulu banyak makam muslim di TPU perkotaan yang memiliki ukuran makam berbeda-beda. Ada yang lebar dan ada yang diperindah atasnya dengan ukuran yang begitu luas. berbeda dengan saat ini

saat ini salah satu contoh wilayah di Indonesia yakni Jakarta telah mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2017 tentang ukuran makam.

Dibuatnya Perda agar semua makam di Jakarta serentak memiliki ukuran yang sama dan memiliki kriteria yang sama pula.

Selain itu juga ukuran makam yang diberikan menurut Perda DKI Jakarta No.3 Tahun 2017 adalah 1,5 m × 2,5 m  untuk menjaga kerapian makam dan juga menjaga lingkungan antar makam lainnya sewaktu terdapat peziarah.

Namun, ukuran makam di setiap Tempat Pemakaman Umum (TPU) disesuaikan dengan ukuran jenazah dan juga luas lahan TPU. Setiap wilayah tentunya memiliki kriteria tersendiri untuk ukuran makam dan juga harga sewa makam.

Artikel Terkait  Jenis Batu Granit San Diego Hills

Lalu bagaimana ukuran makam yang dibenarkan dalam pandangan Islam?

Kajian Islam memandang ukuran makam harus sesuai dengan syari’at Islam dan sesuai dengan sabda Rassulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Beberapa tokoh dalam Islam menyebutkan tentang makam dan larangan pada makam sebagai berikut :

yang paling banyak di kutip di blog lain adalah kutipan yang ini :

  1. Fadhalah bin Ubaid menuturkan “Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk meratakannya (kuburan),” (HR. Muslim).

jika pembaca hanya perpatokan dengan itu saja, maka akan mempunyai kesimpulan bahwa makam yang ada di TPU adalah salah,

namun, setelah saya melakukan penelusuran lebih jauh dan bertanya, yang di maksud dengan meratakan bukanlah dengan meratakan sama dengan tanah, tetapi tidak ada bangunan di atasnya.

makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dikijing, tidak ditinggikan melebihi gundukan tanah normal. Itulah kondisi makam beliau yang ada di zaman sahabat.

Saksi sejarah keterangan ini adalah riwayat dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنُ نَصَبًا، وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimakamkan dalam liang lahat, diletakkan batu nisan di atasnya, dan kuburannya ditinggikan dari permukaan tanah setinggi satu jengkal.

Persaksian lain disampaikan oleh Sufyan bin Dinar at-Tammar – seorang ulama tabiin –,

أَنَّهُ رَأَى قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسَنَّمًا

”Bahwa beliau melihat makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk gundukan.” (HR. Bukhari 2/103).

Dalam riwayat lain, Sufyan at-Tammar mengatakan,

دخلت البيت الذي فيه قبر النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فرأيت قبر النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وقبر أبي بكر وعمر مُسنَّمةً

”Saya masuk ke rumah yang di dalamnya ada makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku lihat makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar dalam bentuk gundukan.” (HR. Ibn Abi Syaibah 11734).

Artikel Terkait  Macam-Macam Harga Nisan Dan Bentuk Nisan

Persaksian lain disampaikan oleh tiga ulama senior tabiin, Abu Ja’far, Salim murid Ibn Umar, dan al-Qosim bin Muhammad cucu Abu Bakr as-Shidiq. Mereka mengatakan,

كان قبر النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر، وعمر جثى قبلة نصب لهم اللبن نصبا، ولحد لهم لحدا

Makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, dan Umar berupa gundukan menyerong kiblat, diberi batu nisan, dan dimakamkan dalam liang lahat. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushanaf 11634).

Semua riwayat ini menggambarkan keadaan awal makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat tidak membuat kijing untuk makam beliau, tidak pula memberikan kubah di atasnya.

sebagai muslim kita berpendapat, tidak ada manusia yang lebih mencintai nabinya, melebihi para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

dari keterangan tersebut kita dapat mengetahui, kalau boleh juga meninggikan kuburan sekitar 1 jengkal agar orang lain mengetahui kalau di situ ada kuburan.

termasuk juga memberi petanda makam seperti nama dan lain-lain di perbolehkan,hanya saja tidak perlu dengan petanda mewah, yang sederhana saja.

di dalam islam juga tidak di perbolehkan melangkahi kuburan

dilandasi oleh salah satu hadis Rasulullah SAW yang berbunyi,

قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” لَأَنْ أَمْشِي عَلَى جَمْرَة أَوْ سَيْف , أَوْ أَخْصِف نَعْلِي بِرِجْلِي أَحَبّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَمْشِي عَلَى قَبْر مُسْلِم

“Sungguh aku berjalan di atas bara api atau pedang, atau aku menjahit sandalku menggunakan kakiku, lebih aku sukai daripada aku berjalan di atas kuburan orang Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam hadis lain juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW memberitahukan kepada para sahabat, termasuk kepada para umatnya agar memiliki etika saat berada di kuburan. Rasul bahkan secara khusus berpesan agar tidak menyakiti pemilik kuburan, atau mayit yang berada dalam kubur.

Artikel Terkait  Keindahan San Diego Hills Dibandingkan Dengan Pemakaman Lain

Seorang sahabat bernama Amr bin Hazm pernah ditegur Rasulullah SAW karena bersandar di kuburan.

رآنِي رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليه وسَلم مُتَّكِئًا عَلَى قَبْرٍ فَقَالَ: لاَ تُؤْذِ صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ

“Rasulullah SAW melihat padaku bersandar pada kuburan. Lalu ia menegurku, ‘Jangan kau sakiti mayit yang ada di kuburan ini!’” (HR Hakim)

jika bersandar saja Rasulullah melarang, bagaimana dengan melangkahi dan menginjak-injak kuburan

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kuburan sebagai tempat peristirahatan terakhir manusia sebelum menuju perjalanan kekal yakni di kehidupan akhirat, wajib kita hormati.

zaman modern saat ini, lahan yang minimalis beberapa TPU di daerah perkotaan tetap menerapkan peraturan seperti itu tentang ukuran makam agar teratur dan rapi.

termasuk juga pemakaman muslim di Al Azhar dan San Diego Hills yang menurut masyarakat di kenal akan mewah nya,

namun sebenarnya di sana juga sama persis kuburannya hanya berupa gundukan dan batu nisan di letakan datar sama dengan tinggi rumput, lebih sederhana daripada kuburan di TPU.

Informasi ini, tentunya harus diketahui oleh masyarakat secara luas terkait dengan ukuran makam dan juga hukum Islam memandang aturan tentang makam. Demikian artikel ini, semoga bermanfaat.

Kategori info
info diskon? chat dengan saya